I just finished reading Bidadari Santa Monica.. (Skr pukul 1-an tengah malam). Duuuh.. Suka banget ama novelnya.. Suka cara Alexandra L.Y menulis dan menjalin cerita cinta antara Efraim dan Pelita.. Duuuh, si Efraim itu perfect guy banget. Cakep n romantis. Cinta mati pula sama Pelita, sampe akhirnya malah mati beneran..
And I really hate that part..
Knapa harus dibikin mati ya tokoh Efraimnya? Halah.. Halah.. Cape2 baca.. Sudah terbuai dan terpesona dgn kisah cinta mereka. Ehhh.. Malah berakhir tragis.. Bikin dirikyu nyesek n bete banget pas ternyata tokoh Efraim diceritakan tiada…
Nyebeliiin deh akhirnya….
Tp utk awal dan sebelum akhir cerita, sukaaa banget bacanya. Alexandra pinter juga merangkai cerita berdasarkan warna ya. Hmm.. Klo diriku yg merangkai, awalnya mungkin adalah warna jingga.. Krn terasa begitu bersemangat saat mulai mengikuti awal petualangan cinta mereka. Terus di tengah.. Berlanjut dgn warna pink, krn diriku jatuh cinta pd romantisnya hubungan mereka ber2 di cerita ini..
But in the end, I definitely pick the red color, to describe how angry I am.. Because the ending of the story is so tragic and sad.. sebeeel.. Hihihi.. Segitunya yak?
Anyway.. Secara overall, I enjoyed reading this book. Asyik bacanya.. Rasanya penasaran dan gak pingin berhenti sampe di akhir. Apalagi malem2 kan anak2 udah pd bobo. Jd ngga ada gangguan deeh..
Paling gangguannya ngantuk aja nih.. Ya iyalah, secara skr udah jam brp ya?? Jam 01.30 malam ternyata.. Istirahat dulu deh
Btw, ini resensi bukunya..
Buat Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Di matanya Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu-abu: remuk hati berkepanjangan. Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang-orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica. Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai airmata, sambil tak henti-henti mengaguminya. Lalu, pada hari yang ketujuh… “Pelita!” dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya. “That’s your name right?” Pelita terkesima.
Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang bahkan terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu… “See you later, Little Shine…,” bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.
Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya? Dan… apa sebenarnya hubungan pengamen cantik itu dengan the love of her life, Efraim?
Soooo.. Happy reading everyone..
Sent from my ♥cuteberry♥
